Tidak Ada Murid yang Tertinggal : Universal Design Learning Menjadi Kunci Pendidikan Inklusif
Nur Ramadhani Ash Siddieqy, M.Pd. Gr
SLB Putra Mandiri Surabaya
Mengapa pendidikan inklusif belum mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan murid untuk berpartisipasi secara optimal dalam proses pembelajaran?
Pendahuluan
Dalam beberapa dekade terakhir, sistem pendidikan diberbagai wilayah indonesia telah bertransformasi sehingga mewujudkan sistem pendidikan inklusif, hal ini berdasar meningkatnya keberagaman karakteristik murid yang meningkat. Pandangan yang berkembang selama ini memposisikan pendidikan inklusif merupakan konsep keberhasilan ketika semua murid, termasuk yang memiliki kebutuhan belajar yang beragam, dapat belajar bersama dalam ruang kelas yang sama. Perspektif tersebut mendorong sekolah untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi seluruh murid, termasuk murid dengan berkebutuhan khusus sebagai wujud pemenuhan hak atas pendidikan yang setara. Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan inklusif di indonesia menunjukan perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumlah sekolah reguler penyelenggaran pendidikan inklusif terus meningkat dari 35.802 sekolah pada 2021 menjadi lebih dari 40.000 sekolah pada 2022, dan kini pada tahun 2026 telah mencapai kisaran 40.164-44.447 sekolah yang tersebar mulai dari jenjang TK hingga SMA/SMK diberbagai daerah. Angka tersebut menunjukan perkembangan kepedulian sekolah untuk membuka akses bagi murid dengan beragam karakteristik dan kebutuhan belajar. Namun pertembuhan jumlah sekolah inklusif belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kualitas layanan. Faktanyan, hanya sekitar 15% sekolah inklusi yang memiliki Guru Pendamping Khusus (GPK), sementara sebagian besar sekolah masih berupaya memenuhi fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas atau murid yang memiliki proses pembelajaran yang beragam. Sehingga, dibanyak ruang kelas, masih sering kita temui murid di sekolah inklusi hanya memandang papan tulis, tetapi belum memahami makna materi pembelajaran, ironinya ada yang memilih untuk diam karena merasa tidak mampu dan tertinggal pada ritme pembelajaran yang terlaksana didalam kelas. persoalannya bukan pada akses terhadap pendidikan, melainkan pada desain pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan murid rata-rata, padahal setiap murid memiliki karakteristik, kebutuhan, dan cara belajar berbeda.
Hakikat pendidikan inklusif bukan hanya menerima semua murid di sekolah, melainkan menciptakan lingkungan belajar yang mampu merespons keberagaman kebutuhan setiap murid. Dengan demikian, tidak ada murid yang merasa tersisih, tertinggal, atau kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Paradigma tersebut menjadi tantangan dalam penyelenggaran pendididkan inklusif di Indonesia. Guru tidak berhenti memperbarui pengetahuannya tentang pembelajaran berdiferensiasi. Sekolah kompetitif untuk membuka akses pendidikan murid dengan berkebutuhan khusus, fasilitas dan aksesibilitas fisik perlahan diperbaiki. Namun menjadi hal fundamental yang luput dari perhatian, yaitu desain pembelajaran yang tidak ramah dengan karakteristik murid dengan berkebutuhan khusus di sekolah inklusif, seolah olah semua murid memiliki kemampuan, minat pengalaman, dan cara belajar yang sama. Mewujudkan pendidikan inklusif tidak cukup hanya membuka akses bagi semua murid. Yang lebih penting adalah mengubah cara sekolah mengajar dan melayani keberagaman murid disinilah Universal Design Learning hadir sebagai kerangka desain pembelajaran yang konsisten dengan prinsip pendidikan inklusif, karena menawarkan pilihan akses pembelajaran dan dukungan yang bermanfaat tanpa memberikan label dan memisahkan murid dengan karakteristik yang beragam dalam satu kelas.
Dibalik konsep UDL terdapat keyakinan sederhana tentang, setiap murid belajar dengan cara yang berbeda. Pandangan ini sejalan dengan knstruktivisme yang melihat belajar sebagai proses membangun pengetahuan melalui pengalaman, bukan sekedar menerima informasi dari guru sebagai salah satu sumber belajar. Ketika pembelajaran di kemas untuk memberikan ruang untuk bereksplorasi, berdiskusi, dan mencoba bebagai cara belajar hal ini akan memberikan kesempatan yang lebih besar untuk memahami sesuai dengan potensinya. Di era kelas yang semakin beragam, tidak lagi cukup mengandalkan satu cara mengajar untuk semua murid. UDL menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dengan menyediakan berbagai pilihan belajar sehingga setiap murid dapat menemukan cara belajar mudah di pahami oleh dirinya. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Piaget dan Vygotsky bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman, interaksi, dan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan setiap individu murid. Ketika membicarakan pendidikan inklusif, perhatian sering tertuju pada kurikulum, metode mnegajar, atau cara guru melakukan penilaian. Padahal, ada satu hal yang tidak menjadi perhatian, yaitu lingkungan fisik tempat murid belajar. Ruang kelas yang sempit pencahayaan yang kurang memadai, akses yang sulit dijangkau, atau tata letak yang tidak ramah bagi keberagaman dapat menjadi penghalang belajar yang efektif. Karena itu mewujudkan pendidikan inklusif tidak cukup hanya mengubah cara mengajar, tetapi memastikan setiap sudut sekolah dirancang agar semua murid merasa nyaman, aman, dan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, dan lingkungan fisik tersebut sebagai bentuk pendukung aktualisasi dari UDL itu terlaksana dengan efektif di dalam kelas.
Pembahasan
UDL berangkat dari keyakinan bahwa setiap murid berhak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan mendalam. Untuk mewujudkannya, pembelajaran perlu dirancang secara fleksibel, dari lingkungan belajar, hingga penggunaan media pembelajaran, dengan menyediakan berbagai cara untuk membangun keterlibatan, menyampaikan materi, dan memberi ruang bagi murid untuk menunjukan apa yang telah dipelajari, setiap murid memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang sesuai dengan potensinya. Pandangan penulis yang menemukan formula pendekatan yang relevan terhadap keberagaman belajar murid, UDL menjadi tawaran cara pandang yang ramah terhadap keberagaman karakteristik murid dengan memberikan pembelajaran dengan berbagai pilihan yang disesuaikan dengan karakteristik murid. Prinsip dari UDL tertulis pada buku tersebut yang pertama tentang multiple means of action and exspression yang mengingatkan para guru untuk memberikan kesempatan murid dalam menunjukan pemahaman dengan cara yang berbeda. Tidak semua murid mampu mengungkapkan pengetahuan dengan cara menulis atau diungkapkan dalam bentuk presentasi lisan. Sedangkan sebagian murid, khususnya mereka yang memiliki kebutuhan belajar yang khusus, cara tersbut belum tentu menjadi aplikakatif yang relevan sesuai dengan kemampuan murid yang memiliki cara belajar yang beragam dan memiliki kekhususan dalam memperoleh proses informasi belajar. Faktanya sebagian murid terutama yang memiliki kekhususan dalam belajar, dan keunikan dalam menerima informasi untuk mengekspresikan pemahaman dan pengetahuan nya lebih ideal jika di fasilittas dalam bentuk karya, praktik langsung, dan demonstrasi pada proses pembelajarannya. Ketika guru memberikan ruang pembelajaran dengan ragam ekspresi tersebut, asesmen yang dilakukan bukan hanya untuk mengukur kemampuan satu cara, maliankan sejauh mana murid memahami proses pembelajaran yang telah dilalui.
Prinsip berikutnya tentang multiple means of engagement atau menyediakan beragam cara untuk membangun keterlibatan murid dalam proses belajar. Prinsip ini berangkat dari tentang pemahaman bahwa motivasi setiap murid tidaklah satu selera. Ada murid yang antusias ketika belajar melalui permaianan, ada juga yang lebih berdiskusi, sementara yang lain lebih nyaman belajar melalui praktik dan proyek kolaboratif. Karena itu, pembalajaran tidak seharusnya hanya mengandalkan satu cara untuk menarik perhatian dan motivasi belajar murid. Guru perlu menghadirkan pengalaman belajr yang fleksibel, memberi pilihan aktivitas pembelajaran, dan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, serta menghadirkan suasana kelas yang aman dan menghargai setiap perbedaan. Ketika murid merasa dihargai, memiliki pilihan, dan menemukan makna pembelajaran, mereka para murid tidak hanya hadir secara fisik di dalam kelas, tetapi juga terlibat secara emosional, kognitif, dan sosial dalam proses pembelajaran. memotivasi guru untuk mengkondisikan kelas agar menumbuhkan rasa ingin tahu dan semanagt belajar setiap murid. Tidak semua murid termotivasi oleh pendekatan yang seragam. Disisi lain ada murid yang antusias pada pembelajaran jika di implementasikan dalam bentuk permainan, dan ada yang lebih tertarik kegiatan proyek yang kolaboratif,
Ketika guru berhasil membangkitkan rasa ingin tahu murid, tantangan berikutnya adalam memastikan setiap murid benar-benar memahami materi yang dipelajari. Inilah alasan mengapa UDL tidak berhenti pada upaya meningkatkan keterlinbatan murid, tetapi juga mendorong guru menyajikan informasi yang melalui beragam cara dan berbagai bentuk. Dengan demikian, setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses dan memaknai pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik belajarnya. Namun di dalam kelas tidak semua murid memahami informasi dengan cara yang sama. Ada yang lebih cepat memahami dengan materi yang di informasikan dalam bentuk gambar atau video, ada juga yang terbantu dengan bantuan lisan, sementara yang lain memahami konsep ketika terlibat dalam demonstrasi atau praktik langsung. Sayangnya, proses pembelajaran di dalam kelas masih mengandalkan satu cara penyampaian materi, sehingga tidak semua murid memperoleh kesempatan yang sama untuk memahami apa yang di pelajari. Melalui prinsip Multiple Means of Representation, UDL mengajak guru untuk menyajikan informasi dalam berbagai bentuk agar dapat menjangkau keberagaman karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar murid. Ketika materi disampaikan mellaui kombinasi teks, visual, audio, media digital, maupun pengalaman langsung, setiap murid memiliki lebih banyak kesempatan dan peluang untuk membangu pemahaman sesuai dengan cara belajarnya. Pada akhirnya, pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada bagaimana guru menyampaikan materi, tetapi juga bagaimana setiap murid dapat menerima, mengolah, dan memaknai informasi secara optimal.
Berbagai penilitian menunjukan bawah pendekatan pembelajaran yang dirancang berdasarkan prinsip Universal Design Learning memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran. CAST Center for Applied Special Technology, sebuah organisasi nirlaba (nonprofit) yang berbasis di Amerika Serikat.sebagai pengembang kerangka UDL melaporkan bahwa penerapan UDL mampu meningkatkan keterlibatan murid, kemampuan literasi, hasil belajar, serta kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang lebih responsif terhadap keberagaman karakteristik murid. Karena itu, sudah saatnya UDL tidak lagi dipandang sebagai pendekatan alternaitf yang hanya di implementasikan pada kondisi tertentu. Justru semakin beragamnya karakteristik murid di ruang kelas, UDL layal menjadi pijakan fundamental dalam merancang pembelajaran yang yang inklusif dan berpihak pada kebutuhan setiap murid. Sudah saatnya pendidikan inklusif dimaknai lebih dari sekedar menghadirkan semua murid dalam satu ruang kelas.
Penutup
Keberhasilan pendidikan inklusif tidak diukur dari banyaknya sekolah yang menyandang status inklusif, tetapi dari sejauh mana setiap murid merasa diterima, mampu berpartisipasi, memperoleh penglaman belajar yang bermakna. Universial Design for learning memberikan arah bahwa perubahan tersebut dapat dimulai dari ruang kelas melalui desain pembelajaran yang fleksibel, aksesibel, dan menghargai keberagaman. Perubahan tidak bisa terjadi secara instan namun bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan oleh guru untuk memberikan layanan belajar yang efektif untuk perkembangan murid dengan memiliki gaya belajar yang beragam khusus nya murid yang memiliki hambatan berkebutuhan khusus. ketika guru mulai merancang pembelajaran yang memberikan pilihan, membuka ruang partisipasi, dan menghargai perbedaan cara belajar, dengan itu pendidikan inklusif tidak lagi berhenti sebagai slogan kebijakan, melainkan menjadi pengalaman nyata yang dirasakan setiap murid.
Daftar Pustaka
Alfawzan, Sarah Khaled. 2025. “Perspectives of Teachers of Students with Intellectual Disabilities on the Role of Educational Policies and Systems in Using Universal Design for Learning : A Qualitative Study.” 1–12.
Analysis, A. Meta, Johanna L. Donath, Timo Lüke, Elisabeth Graf, Ulrich S. Tran, and Thomas Götz. 2023. “Does Professional Development Effectively Support the Implementation of Inclusive Education? A Meta‑Analysis.” 1–28.
Espada-chavarria, Rosa, Rayco H. Gonz, L. Luis, and D. Miriam. 2023. “Education Sciences Universal Design for Learning and Instruction : Effective Strategies for Inclusive Higher Education.”
Khurana, Aashna. 2022. “Converting Physical Spaces into Learning Spaces : Integrating Universal Design and Universal Design for Learning.” (September):1–6. doi:10.3389/feduc.2022.965818.
Marivel, Gabriela, Bastidas Martinez, Santiago Cabrera Narváez, Germania De La, Cruz Quinteros, Lorena Alejandra, and Vizcaíno Peñafiel. 2025. “The Impact of Universal Design for Learning ( UDL ) on Inclusive Education : An Analysis of Participation and Academic Performance.” 6(3):1160–67.
Romero-tena, Rosalía, Raquel Martínez-navarro, and Antonio León-garrido. 2025. “Training of Future Teachers in the Binomial Universal Design for Learning and Technologies for Inclusive Education.”
Studies, Case, and Practical Implementation. n.d. Handbook of Research on Applying Universal Design for Learning Across Disciplines : Concepts , Case Studies , And.
Vieriu, Aniella Mihaela. 2025. “Inclusive Education as a Pillar of Sustainability : An Experimental Study on Students ’ Attitudes Towards People with Disabilities.”
Xue, Rui, Hongqin Chai, Lei Yao, and Wangqian Fu. 2023. “The Influence of School Inclusive Education Climate on Physical Education Teachers ’ Inclusive Education Competency : The Mediating Role of Teachers ’ Agency.” (June 2020):1–8. doi:10.3389/fpsyg.2023.1079853.
